KISAH INSPIRATIF - SAMPAH KATANYA I
Jumat, 19 Juli 2019
KISAH INSPIRATIF - SAMPAH KATANYA. Oleh:LISARS
"Ada apa denganmu?mengapa menangis?" Lirihnya seraya mengusap pelan punggung sang adik.
"Ah.. aku tak apa" Ghani mengusap kasar air matanya, ia sudah tidak bisa berbohong lagi.
"Jangan berbohong" Gibran mulai kesal dengan jawaban adiknya itu
"aku tak suka di bohongi dan kau tak pandai berbohong. Cepat katakan,ada apa Ghani?" Bentaknya kasar
"Sudah ku katakan,tidak ada apa-apa,bang
Jangan memaksaku untuk mengatakannya" ucapnya lirih dan beranjak pergi.
Ghani berlari meninggalkan Gibran, ia tak mampu berkata banyak saat air mata tidak berhenti menetes.Rupanya ia tak ingin Gibran yang terkenal pemarah dan sudah sering keluar masuk BK itu terus memukuli mereka karna ulahnya.
"Aku tak ingin ada hati yang membalas lara dan torehkan luka,biarkan karma yang menyelesaikannya. " batin Ghani
Masa SMA adalah masa yang paling indah,tak ada yang bisa di artikan di masa itu melebihi segalanya,namun tidak untuk perempuan bernama Ghani . Entah karna apa anak miskin selalu dijadikan celoteh di sekolah favorit,seakan mereka merasa lebih pantas berada di sekolah itu,seakan mereka merasa sudah lama di bumi semua ucapan mereka selalu benar adanya.
Ghani kembali ke kelasnya setelah dimaki oleh 3 teman kelasnya,dan benar saja keadaan yang sama terulang kembali.
"Eh ada sampah,gak tau malu ya! Masih betah aja disini" ucap salah seorang perempuan memulai percakapan dengan temannya.
"Aduduh,buruk banget mukanya" sambung temannya yang duduk di atas meja.
"Eh cobak liat,itu sepatu kenapa robek robek gitu ya? " ucapnya seraya menunjuk sepatu Ghani
"Ih jorok banget sih,berapa sih harga sepatu? Gak nyampe jual tanah kan?" Jawabnya dengan semeringah dengan gelak tawa teman-temannya
"Gak tau malu banget pake sepatu robek!" Sambung perempuan berbaju rapi dengan rok ketatnya
"Masih aja betah sekolah disini,gak di usir syukur"jawab Anggika si ketua geng melipat tangannya dan melirik tajam ke arah Ghani
"Punya uang berapa sih,SPP aja masih nunggak"ucap teman lainnya membenarkan
3 perempuan itu terus saja memaki,tak kuat rasanya jika harus berdiam diri mendengarnya tanpa ada tindakan.semua kelas sunyi saat mereka memaki karna mereka adalah orang berada.penghuni kelaspun tak ada yang bergeming.
Ya,mereka bisa mengatakan apapun yang mereka suka tanpa ada tanggapan dari lainnya,namun tidak untuk aku yang sedang duduk di pojok kelas itu.
"Woy,bisa diam gak? Ngomong terus daritadi" sapaku kesal mengerutkan alis.
"Gak perlu ikut campur ya! Ini bukan urusan kamu!" Jawabnya kasar sembari melototkan matanya
"Enak aja,kamu tuh ya kalo mau merendahin orang ngaca dulu" aku menendang bangku yang tepat di depanku mewakili kekesalanku
"Kamu kira,ini sekolahan milik nenek moyang kamu apa? Bicaranya gak di jaga" sambungku lagi
Keadaan kelas benar-benar tak terkendali,banyak yang tak tahan mendengar mereka bertengkar adu mulut sehingga mereka pergi meninggalkan kelas. Ghani yang hanya menikmati makan siangnya merasa tak enak hati jika aku terus menyerang ocehan kepada 3 perempuan itu,Ghani tidak mau ada ancaman ataupun balasan kepadanya nanti terkait ocehan itu.
Ghani menutup rapat bekal makanannya,menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis ke arah ku,aku paham apa yang Ghani maksudkan aku membalasnya dengan anggukan.
Tak tahan melihat Ghani berlinang airmata,aku mengajaknya pergi ke luar kelas. Mengajaknya berbincang sedikit untuk meringankan beban pikirannya.
"Ghani,kamu jangan dengerin kata mereka ya.
Orang seperti mereka gak pantes kamu ladeni,cukup sabar aja pasti ada balasan kok. Percaya deh sama aku" ucapku pelan meyakinkan ucapanku
"Makasih ya"jawabnya singkat sembari tersenyum cepat
"Ketika hati lelah,tak ada tempat meluapkannya namun aku tak sendiri ada Qintan dan Abangku yang selalu setia mendengarlan keluh kesanku,menyemangatiku untuk bisa tetap sekolah sampai lulus tanpa mendengarkan hinaan itu"
Roda itu berputar,apa yang dilakukan kepada orang akan terjadi juga pada diri,mungkin saat ini mereka bangga dengan apa yang mereka punya,menganggap rendah orang lain. Suatu saat mereka akan merasakan itu semua. Tak perlu sibuk berbenah untuk membalas perlakuan itu,tak ada guna. Untuk saat ini mereka tak perlu di ingat dan tentu mereka ingin di ingat saat Mengetahui kesuksesan,mencoba menyapa dengan wajah terheran.
Memang Ghani tak mampu dalam hal ekonomi namun bukan berarti ia miskin ilmu,kedua orang tuanya sudah tiada sejak Ghani berusia 5 tahun. Kecelakaan itu meregut nyawa mereka saat akan pergi sebagai TKI.
Namun ada sosok Gibran,saudara kandungnya yang setia dan baik. Mereka sama-sama mengutkan batin untuk kuat menghadipi kepergian kedua orang tua mereka.
Suatu saat Ghani akan membayar semua perlakuan mereka,mereka yang sudah mencaci keluarganya,mereka yang menginjak,menganggap rendah keluarganya Ghani akan membalasnya dengan prestasi,dan sekarang terbukti kerja keras akan menjawab usahanya.
Langganan:
Postingan (Atom)